Inisiasi, Motivasi, dan Konsistensi (Part 2)

Masih teringat kala itu waktu aku baru lulus SMP. Aku memilih untuk mendaftar SMA karena aku ingin menggapai cita-citaku. Di awal masa SMA aku lalui dengan cukup baik, menguasai materi dengan baik, nilai harian yang baik, dan ulangan yang baik — kecuali untuk beberapa mata pelajaran.  Aku cukup sering belajar karena nilai dari semester 1 akan digunakan untuk penjurusan di akhir semester 2 nanti, penjurusan yang menentukan IPA atau IPS. Namun saat memasuki akhir dari semester 1 semua tak lagi sama. Aku jarang mendengarkan penjelasan guru, nilai ulangan mayoritas remedial, tugas selalu dikumpulkan saat deadline, slide presentasi hancur, bahkan saat mempresentasikannya pun tidak karuan. Semuanya menurun, bahkan peringkat ku di kelas yang semula kurang bagus menjadi lebih buruk. Aku bahkan ragu apakah akan bisa masuk ipa atau tidak. Karena syarat untuk mendapat jurusan IPA di sekolahku adalah rata-rata nilai IPA semester 1 dan 2 minimal 8. Aku sempat meminta tugas tambahan dari salah satu guruku,

“Bu saya boleh minta tugas tambahan ga buat nambahin nilai (menyebut nama mata pelajaran) saya?”

“Emang nilai (menyebut nama mata pelajaran) kamu berapa?”

“(Sekian), Bu”

“Kalo pelajaran (itu)?”

“(Sekian), Bu”

“Kalo pelajaran (yang satu lagi)?”

“(Sekian), Bu”

“Yah yaudah kamu masuk IPS”

dan begitulah kata beliau.

Tapi ntah mengapa saat pengambilan rapot aku mendapat jurusan IPA dan teman ku yang nilainya sedikit di atas ku justru mendapat IPS. Merasa sangat bersyukur, aku pun memantapkan niatku untuk belajar di kelas XI. Aku perhatikan setiap guru yang mengajar, menulis catatan dengan serapi mungkin, mengerjakan PR dan tugas tepat waktu, dan melengkapi alat tulis bahkan pulpen berbagai warna untuk menggambar vektor pada pelajaran fisika. Namun lagi-lagi semua hanya berjalan, mungkin, 3 bulan. Dan kelas XI pun berakhir seperti saat kelas X lalu. Aku naik ke kelas XII seolah tanpa membawa ilmu dari kelas XI, terutama kimia. Rekor ulangan kimiaku adalah selalu remedial dari ulangan pertama sampai terakhir.

Naik ke kelas XII, aku pun dihadapkan dengan ujian-ujian yang sudah di depan mata. Bukan saatnya lagi untuk main-main. Ujian sudah di depan mata, bukan hanya Ujian Nasional, melainkan ujian yang lebih besar, SBMPTN. Maka untuk sekali lagi aku niatkan diriku untuk belajar dan kufokuskan pada pelajaran kimia. Aku kumpulkan kembali buku-buku kimia dari kelas X hingga XII yang dulu tak pernah kubuka dan ringkasan materi kelas XI yang diberikan oleh guruku yang dulu tak pernah kubaca. Alhamdulillah niatku untuk belajar difasilitasi oleh Allah. Setelah mendaftar pada sebuah program beasiswa dan melakukan serangkaian test yang panjang, akhirnya aku pun diterima menjadi beswan program beasiswa yang diberikan oleh Paguyuban Karya Salemba Empat (KSE) UI  yang bernama Rumah Pintar (RuPin) yang memberikan bimbel gratis dan bantuan dana jika sudah diterima di PTN yang bermitra dengan KSE kelak.

Singkat cerita, setelah belajar giat di sekolah, di rumah maupun di tempat beasiswaku, tibalah aku pada Ujian Nasional. Meskipun lulus dengan hasil yang kurang memuaskan, namun setidaknya semua nilaiku sudah melampaui nilai minimum yaitu 55 dan yang terpenting, tanpa kunci jawaban atau bocoran. Euforia setelah UN pun sangat terasa hingga 4 hari setelah UN, membutakan sesaat bahwa ada ujian yang lebih besar dan lebih penting daripada UN.

Setelah semua euforia itu berlalu, aku pun kembali belajar dengan giat, siang maupun malam, guna memperdalam penguasaan konsep dari materi-materi yang kemungkinan diujikan pada SBMPTN. Tak jarang aku pun menginap di Sekretariat Paguyuban KSE UI — tempatku bimbel — bersama teman-teman dan pengajar-pengajarku yang selalu setia menemani.

Hingga pada akhirnya hari ujian pun tiba, 9 Juni 2015 dan selanjutnya 14 Juni yaitu SIMAK UI. Walaupun merasa kurang puas dengan apa yang telah kukerjakan, namun aku telah melakukan yang terbaik yang dapat kulakukan, kurasa.

Tetapi ternyata Allah mempunyai rencana lain yang, Insya Allah, lebih baik. Hasil dari kedua ujian yang kuikuti, keduanya berkata “tidak”. Aku berusaha tetap tegar dan memutuskan untuk mengikuti bimbel lagi. Jika saja saat SMA aku konsisten dalam belajar, mungkin kini aku sudah duduk di bangku kuliah dan bukannya kembali belajar pelajaran yang harusnya sudah ku kuasai selama di SMA.

Advertisements

Inisiasi, Motivasi, dan Konsistensi (Part 1)

HardestThing

Inisiasi berasal dari bahasa Latin, initium, yang berarti masuk atau permulaan. Permulaan adalah sesuatu yang pasti dilalui dalam segala hal, dan terkadang memulai sangatlah sulit untuk dilakukan. Misalnya, saat hari pertama sekolah, tentunya akan lebih sulit dari hari-hari setelah 2 bulan menjalani sekolah. Begitupun dengan menulis postingan-postingan di blog ini, hal yang tersulit bagi ku adalah menemukan topik dan juga intro, namun jika setengah jalan telah ku lalui semua terasa lebih mudah.

Untuk memulai sesuatu kegiatan biasanya kita didorong oleh sebuah dorongan yang timbul, baik sadar maupun tidak sadar. Misalnya, saat kita haus kita akan mendapat dorongan untuk minum, begitu pun saat lapar, mengantuk, dan lain-lain. Motivasi, menurut ku, terbagi menjadi 2: motivasi karena ingin sesuatu dan tidak ingin atau takut akan sesuatu. Misalnya, kita belajar agar menjadi pintar atau tidak menjadi bodoh, kita tidur agar segar atau tidak lemas, dan lain sebagainya.

Motivasi biasanya timbul untuk memulai sesuatu pekerjaan, namun biasanya hilang di tengah jalan. Pada akhirnya pekerjaan yang kita mulai dengan baik berakhir dengan hasil yang kurang memuaskan. Oleh sebab itu diperlukan konsistensi dalam melakukan suatu pekerjaan agar motivasi kita tetap terjaga dan hasil akhir yang didapat juga memuaskan.

Bersambung…

Introduction (Part 2)

“Fal lu mau masuk mana habis ini?”
“Insya Allah FKUI”
“Wah hebat lu fal. Emang enak sih jadi dokter gaji nya gede”

Percakapan di atas adalah kutipan percakapan ku dengan salah satu kawan ku dulu sewaktu masih bersekolah. Profesi dokter memang identik dengan “uang”, “kaya”, dan lain sebagainya, dan mungkin memang begitulah kenyataannya. Tapi tidak semua dokter demikian. Banyak yang memilih hidup sederhana di desa dan membuka praktik di sana. Jika kamu bercita-cita menjadi dokter hanya karena alasan tersebut, ketahuilah kamu telah salah memilih cita-cita. Dokter mengemban kewajiban dan tanggung jawab yang terlalu besar jika hanya digunakan sebagai “alat pencari uang”. Tidak seperti kebanyakan pekerjaan yang lain yang jika melakukan kesalahan mungkin hanya akan berurusan dengan atasan; mereka (dokter) akan dimintai pertanggungjawaban oleh hukum dan oleh-Nya.

“Kalo kamu sendiri kenapa pengen jadi dokter?”

Aku terlahir tidaklah seperti orang pada umumnya. Semenjak berada di kandungan, aku sudah di vonis oleh dokter mempunyai bentuk jantung yang berbeda serta denyut yang sedikit. Aku pun divonis tidak bisa hidup lama. Setelah aku lahir, aku menjalani serangkaian pengobatan baik medis sampai alternatif serta pengobatan cina hingga berumur, mungkin, 3 atau 4 tahun. Tapi semua tidak membuahkan hasil. Akhirnya orang tua ku, yang memang berasal dari keluarga sederhana, berserah diri pada Allah S.W.T. Jika memang aku harus diambil oleh-Nya, maka itulah memang yang terbaik.

Di usia 5 tahun aku memasuki Taman Kanak-kanak. Selama di Tk pun aku, bisa dibilang, sakit-sakitan dan seringkali izin karena sakit. Tubuh ku pun saat itu sangat kurus, dan pernah dibilang kurang gizi sewaktu berobat ke puskesmas. Tapi Alhamdulillah semenjak aku lulus dari TK dan masuk SD kondisi fisik ku membaik, jarang terkena penyakit, dan tubuh ku perlahan-lahan menjadi gemuk. Dan dari semenjak SD lah aku sering didoktrin oleh ibu ku untuk menjadi dokter, untuk menolong orang-orang yang memiliki kondisi ekonomi menengah kebawah agar tidak mengalami hal yang sebagaimana mereka pernah rasakan.

Memasuki jenjang SMP cita-cita ku untuk menjadi dokter pun semakin kuat. Hingga akhirnya setelah lulus dari SMP aku memutuskan mendaftar di SMAN 49 Jakarta meskipun melihat kondisi keuangan keluarga saat itu ada baiknya aku memilih SMK agar cepat bekerja, namun aku tetap berpegang pada cita-cita ku. Sayangnya setelah aku memasuki SMA, aku terlena dengan kehidupan remaja yang katanya masa-masa remaja terindah. Ku gantungkan cita-cita ku tanpa ada usaha untuk meraihnya. Dan saat ku ingat kembali cita-cita ku itu, sudah terlambat untuk memperbaikinya. Dan sekarang inilah hasil yang ku dapat, sekali lagi membebani orang tua dengan biaya bimbel yang tidak sedikit. Disaat teman-teman ku sedang menjalani masa OSPEK aku justru kembali mempelajari pelajaran yang seharusnya sudah ku kuasai setelah 3 tahun menjalani masa sekolah. Tapi tiada guna menyesali semua yang telah terjadi. Dan semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, Insya Allah.

Introduction (Part 1)

Assalamu’alaikum wr. wb.

Perkenalkan nama ku Naufal Mawaldi. Aku lahir di Jakarta 18 tahun yang lalu. Di usia ku yang sekarang, rata-rata orang berprofesi sebagai pelajar, mahasiswa, atau karyawan. Tapi aku tidak termasuk rata-rata orang tersebut.

“Kenapa?”

Karena memang begitulah keadaan ku sekarang. Dibilang pelajar tapi udah ga sekolah. Dibilang mahasiswa tapi belum kuliah. Dibilang karyawan tapi ga kerja.

“Kok gitu?”

Aku lulus dari SMAN 49 Jakarta tahun ini. Layaknya sebagian besar lulusan SMA tentunya aku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah. Namun Allah mempunyai kehendak dan skenario yang lain, yang tentunya lebih baik untuk ku. Setelah mengikuti serangkaian ujian masuk Perguruan Tinggi, semua hasilnya berkata “Maaf…” dengan berbagai warna, dan yang menyakitkan adalah kata tersebut dihiasi warna kesukaan ku, merah.

Sedih, malu, dan banyak rasa yang bercampur sudah pasti aku rasakan saat itu. Tapi perlahan aku bangkit dan Alhamdulillah Allah memberikan ku jalan keluar. Dengan terus menggenggam mimpi dan cita-cita mulia yang mungkin sebagian besar orang memimpikannya pada masa kecil namun lenyap saat memasuki SMA — dokter — aku mengikuti program bimbingan belajar yang dikhususkan untuk orang-orang yang mengalami kejadian seperti ku. Dengan tidak mengindahkan perkataan kawan dan sanak saudara yang menyarankan untuk bekerja atau kuliah sambil kerja; perkataan orang-orang yang entah memberi saran karena menyangi ku atau meragukan bahwa aku bisa melakukannya; perkataan orang-orang yang mengenal aku dengan baik atau hanya seolah-olah begitu; aku tetap yakin bahwa dengan niat, usaha, dan doa yang baik dan benar, Allah akan memberi hasil yang baik dan pantas atas apa yang telah aku lakukan.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahanSesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Bersambung…